Kekuatan Tak Tergoyahkan dari Rumor

image
Image: kuramamagazine.com

Pernahkah Anda mendengar kabar angin? Bagaimana seseorang bisa menyebarkan berita itu? Bahkan dengan informasi yang sebatas rumor, kita membuat tebakan dan menarik kesimpulan. Tapi bisakah kita memperbaiki kepercayaan yang salah ketika kita menerima informasi yang lebih akurat? Dapatkah kita menghilangkan dampak dari rumor tersebut?

Ketika sesuatu yang penting dan layak diberitakan terjadi, kita jarang mendapatkan seluruh cerita awalnya. Hal ini berlaku pada berita nasional dan lokal, namun juga berlaku dalam kehidupan pribadi kita. Kita mendengar beberapa yang benar dan beberapa rincian yang salah. Informasi lebih lambat datang menuju cahaya. Orang menyebarkan desas-desus dan sindiran. Mereka membuat saran, dan kita tidak bisa tidak mengikuti saran tersebut jika mengetahui kesimpulan mereka yang tersirat. Tetapi beberapa kesimpulan awal kita akan salah. Pada akhirnya kita akan mendengar lebih detail dan beberapa hal mungkin bertentangan dengan asumsi keliru dan kesimpulan kita.

Apakah kita kemudian memperbaiki keyakinan atas rumor tersebut?

Mungkin saja tidak. Keyakinan yang keliru dapat terus membimbing pikiran dan keyakinan. Efek pengaruh lanjutan adalah temuan yang menyatakan bahwa orang akan tetap mendiskreditkan informasi, bahkan ketika mereka secara akurat dapat mengingat fakta-fakta yang menunjukkan bahwa informasi yang mereka percaya adalah salah.

Ini tampaknya salah dalam banyak cara.

Beberapa penelitian awal yang menjelajahi efek pengaruh lanjutan datang dari Johnson dan Seifert (1994). Mereka memberi orang serangkaian berita tentang pencurian sejumlah perhiasan dari rumah sepasang kekasih saat mereka sedang berlibur. Di awal laporan berita, partisipan membaca bahwa polisi mencurigai putra pasangan tersebut. Mereka juga menerima beberapa bukti tidak langsung, dimana anaknya yang selalu diminta untuk menjaga rumah, mempunyai kunci, dan ia juga memiliki banyak hutang judi.

Dalam laporan selanjutnya, partisipan belajar beberapa bukti yang meringankan, dimana saat itu si anak sedang berada di luar kota, dan pencuri mungkin memasuki rumah melalui jendela ruang bawah tanah yang rusak. Hal ini menunjukkan bahwa si anak mungkin tidak melakukan kejahatan. Meskipun demikian, banyak orang terus mencurigainya. Bahkan ketika mereka ingat bukti yang meringankan bahwa anak itu tidak melakukan pencurian tersebut, peserta partisipan terus mencurigainya. Efek pengaruh lanjutan adalah temuan bahwa informasi yang salah terus membiaskan jalan situasi yang kita pahami.

Jika Anda melewatkan pernyataan langsung dari kecurigaan dan hanya memberikan bukti, efek pengaruh lanjutan akan lebih kuat. Dalam penelitian yang dilakukan Johnson dan Seifert, mereka langsung mengatakan kepada partisipan bahwa anak itu tersangkanya. Namun dalam studi terbaru oleh Patrick Kaya dan Maria Zaragoza (2015), peserta hanya diberi bukti dan diizinkan untuk menarik kesimpulan sendiri. Para peneliti tidak menyatakan bahwa anak itu tersangka. Sebaliknya mereka hanya memberikan bukti bahwa si anak terlibat. Ia diminta untuk menjaga rumah, dia punya kunci, dan dia memiliki hutang judi. Tentu saja partisipan kemudian menarik kesimpulan. Mungkin anak mereka sendiri yang mencuri perhiasan keluarganya. Ketika orang telah dituntun untuk menarik kesimpulan sendiri, efek pengaruh lanjutan jauh lebih kuat. Para peneliti bisa saja mengatakan pada peserta bahwa si anak saat itu sedang ke luar kota, dan ada orang lain yang ditangkap setelah menjual perhiasan mahal di toko gadai. Partisipan ingat informasi yang lebih baru ini, tapi mereka terus mencurigai si anak. Membiarkan orang sampai pada kesimpulan mereka sendiri membuatnya sangat sulit untuk mengubah keyakinan mereka.

Kaya dan Zaragoza mencatat bahwa ini bukan masalah ingatan. Orang-orang tidak lupa pada bukti yang tidak dibenarkan. Mereka ingat itu. Tetapi ketika orang membuat penilaian, mereka sering tidak terlibat dalam pengolahan data yang diperlukan dan analisis yang serius. Ketika seseorang bertanya kepada mereka tentang si anak, mereka dengan cepat mengingat bukti yang melibatkan dirinya, dan bahwa mereka telah mencurigainya. Mengevaluasi semua bukti, termasuk bukti yang tidak dibenarkan, dibutuhkan jauh lebih banyak usaha kognitif. Mari kita hadapi itu. Orang-orang umumnya menggunakan pendekatan kognitif efisien, atau bisa dibilang malas berpikir. Dengan kata lain, kita melangkah dengan penjelasan sederhana. Karena penjelasan sederhana adalah yang kita pelajari pertama dan datang ke dalam pikiran dengan mudah. Ketika kita telah menyimpulkan berdasarkan implikasi, kita lebih cenderung untuk terus bertahan dengan kesimpulan itu.

Ini adalah kekuatan rumor dan sindiran. Anda dapat mengarahkan orang-orang untuk kesimpulan tertentu melalui saran dan informasi parsial. Begitu mereka mengikuti arus, kesimpulan tersebut akan terus menempel.

Mendiskreditkan rumor yang tidak benar dan memberikan informasi yang lebih lengkap tidak akan cukup untuk membuat orang untuk mengubah keyakinan mereka. Saya yakin Anda ingat kasus serupa ketika rumor dan sindiran merusak reputasi seseorang. Ada kalanya informasi yang tidak lengkap menyebabkan orang lain untuk menarik kesimpulan yang salah. Jika Anda bisa membawa dengan contoh dan kesimpulan sendiri, argumen saya akan menjadi lebih efektif.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY